SMGR Raup Untung dari Produk Beton Curah

by admin in Uncategorized | 0 comments

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk mulai mengembangkan industri hilir berbasis semen, yakni produk beton curah (ready mix) dengan mengakuisisi PT Varia Usaha Beton pada akhir tahun lalu senilai Rp51 miliar.

Melalui anak usahanya yakni PT Semen Gresik Group (SGG), PT. SGG Prima Beton membeli saham milik dana pensiun Semen Gresik sebesar 36,67% yang ada di PT Varia Usaha Beton (VUB).

Kapasitas produksi beton milik VUB masih kecil, namun untuk melakukan pengembangan usaha, dana pensiun terkendala aturan yang mengikat dalam menanamkan investasinya.

Ketika VUB mau berkembang, butuh suntikan modal dari pemegang saham. Akhirnya, Semen Indonesia mengakuisisi perusahaan tersebut senilai Rp51 miliar pada akhir 2015.

Kebutuhan total produk beton curah di Indonesia sendiri sudah mencapai 9,3 juta ton pada 2015. Angka kebutuhan ini diperkirakan masih akan terus tumbuh antara 10% hingga 15% per tahun.

Perseroan dengan kode emiten SMGR ini akan fokus menggarap pangsa pasar dalam negeri dan belum banyak merambah ke segmen global. Hal ini disesuaikan dengan belum tergarapnya semua kebutuhan domestik.

Saat ini, PT Semen Indonesia telah memiliki 22 unit cement mill, 26 lokasi pengepakan. ditambah 11 pelabuhan khusus yang dibangun dari ujung barat sampai timur Indonesia dan memiliki 365 jaringan distributor.

Sedangkan analis UOB Kay Hian Securities, Marwan Halim memperkirakan, Semen Indonesia dapat memperoleh manfaat dari pembangunan infrastruktur di dalam dan luar Jawa pada 2016. Semen Indonesia sebagai BUMN telah ditunjuk sebagai salah satu pemasok utama semen untuk sejumlah proyek infrastruktur besar seperti proyek kereta ringan (light rail transit/LRT), proyek Terminal 3 bandar udara Soekarno-Hatta, tol Sumatera ruas Medan-Tebing Tinggi, kereta api Trans Sulawesi, dan aneka proyek tol di Jawa Timur.

“Setelah volume penjualan yang datar sebesar 26,5 juta ton pada 2015, volume penjualan diharapkan tumbuh 6% year on year menjadi 28 juta ton pada tahun ini, disokong oleh ekonomi yang lebih kuat dan pengeluaran pemerintah yang lebih besar dalam pembangunan infrastruktur,” papar Marwan.

Marwan menambahkan, operasional SMGR diyakini lebih efisien berkat biaya energi yang lebih rendah.

“Penurunan harga solar sebesar 9% dan tarif listrik sebesar 8,5% oleh pemerintah dianggap bisa mengurangi biaya produksi sampai 2% pada tahun ini,” ujarnya.